Meski sudah menandatangani kontrak empat tahun dengan klub Espanyol, Arthur Irawan diperbolehkan oleh klubnya dan memang siap untuk membela timnas Indonesia. Dengan catatan PSSI memanggilnya untuk bergabung dalam squad Garuda Muda.(inilah.com/foto:detiksport)
Arthur: Saya lahir di Surabaya, 3 Maret 1993. Lahir saja, lalu pindah ke Jakarta. Posisi saya bisa main di gelandang tengah atau bek kanan.
Dari umur berapa main sepak bola?
Dari umur 8 tahun.
Apa yang bikin tertarik jadi pemain sepak bola?
Suatu hari saya cuma lihat-lihat, ke JIS (Jakarta International School) umur 8 tahun, lihat anak-anak main bola. Sebelum itu saya cuma main basket, tidak main sepak bola sama sekali. Saya sempat sekolah di JIS sembilan tahun. Gitu aja, lalu tertarik.
Dulu latihan di mana? Apakah di SSB?
Main di sekolah saja. SSB tidak pernah. Paling di ASA (Asian Soccer Academy)
Mulai kapan serius dengan sepak bola?
Umur 16 tahun saya pindah ke Inggris. Itu untuk belajar, ambil level A. Pernah berlatih dengan Manchester United dan beberapa klub Inggris lain. Mulai serius sedikit.
Tapi di Inggris tidak pernah bisa main karena masalah izin (kerja). Espanyol tertarik dengan saya, jadi saya pindah ke sana.
Lalu bagaimana bisa terpantau oleh Espanyol?
Pemandu bakat mereka lihat saya main di sebuah pertandingan di Inggris. Mereka mengontak agen/manajer. Saya ditawari tes. Saya dites 2 bulan dan baru minggu lalu saya teken kontrak 4 tahun.
Januari lalu sudah masuk radar timnas Indonesia, tapi tidak terpilih. Perasaannya waktu tidak terpilih waktu itu bagaimana?
Waktu itu memang tidak berharap apa-apa. Saya masih 17 tahun dan saya masih harus balik ke Inggris. Orang tua saya mau saya meneruskan sekolah sebelum main bola. Saya tidak bisa apa-apa. Sebelum itu saya ditawari pelatih timnas U-20 Cesar Payovich ke Uruguay, tapi saya tidak bisa pergi juga karena orang tua saya mementingkan studi dulu.
Saat ini saya melihat Xavi Hernandez, pemain Barcelona. Tapi juga banyak pemain di tim utama Espanyol. Saya mengidolakan mereka karena saya sudah tahu persis, kenal mereka. Seperti Sergio Garcia, Joan Verdu, saya mengidolakan mereka karena kenal secara pribadi. Di latihan, mereka kerja keras, bukan yang seperti, “Saya sudah bintang, saya nggak perlu berlatih lagi.” Tapi mereka mau menang, punya hati pemenang.
Saya sih bilang, kalau saya bisa kenapa mereka tidak bisa? Mereka berbakat, tinggal masalah kerja keras. Percaya sama Tuhan. Pasti bisa. Bekerja keras, tentunya, dan doa banyak-banyak. (http://id.berita.yahoo.com)
